Mengenal Dua Jenis Bahasa Isyarat, BISINDO vs SIBI

Pernahkah kamu melihat juru bahasa isyarat beraksi di televisi? Sebagian besar kita pasti memahami bahwa bahasa isyarat tersebut ditujukan untuk kelompok masyarakat Tuli. Namun tahukah kamu bahwa penggunaan bahasa isyarat di masyarakat Tuli sejatinya sangat beragam?

Secara garis besar, masyarakat Tuli di Indonesia berkomunikasi menggunakan dua jenis bahasa isyarat, yaitu Sistem Bahasa Isyarat Indonesia (SIBI) dan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO).  

Ketika kamu menyaksikan juru bahasa isyarat di televisi, mereka umumnya menggunakan BISINDO. Kendati bahasa isyarat ini lebih mempresentasikan kebutuhan komunikasi masyarakat Tuli, BISINDO tidak digunakan di Sekolah Luar Biasa (SLB) Indonesia. Pemerintah justru menggunakan SIBI sebagai bahasa pengantar resmi SLB Tanah Air.

Mengapa demikian? Mari simak penjelasan berikut.

BISINDO (Bahasa Isyarat Indonesia)

Bisindo
Sumber foto: Yayasan Peduli Kasih ABK

BISINDO atau Bahasa Isyarat Indonesia merupakan bahasa yang berkembang secara alami di kelompok masyarakat Tuli Nusantara. Bahasa isyarat ini sering ditemukan di kalangan teman Tuli maupun teman inklusi pengguna bahasa isyarat. 

Bahasa isyarat ini digagas oleh masyarakat Tuli dan muncul secara alami berdasarkan pengamatan teman Tuli. Sebab berkembang secara alami, bahasa isyarat yang disampaikan dengan gerakan dua tangan ini memiliki dialek yang bervariasi di setiap daerah.

Sejarah mencatat, BISINDO sudah ada bahkan sebelum Indonesia merdeka. Nahas, minimnya sumber literasi, kajian serta penelitian tentang BISINDO menyebabkan bahasa isyarat ini tidak populer di kalangan masyarakat luas, termasuk pemerintah. Boleh dibilang, BISINDO dianggap bahasa primitif.

BISINDO sendiri memiliki tata bahasa khas, yang berbeda dengan bahasa lisan orang berkemampuan dengar umumnya. Perbedaan tata bahasa itu mencakup fonologi, morfologi, sintaksis, pragmatis dan unsur bahasa lainnya.

SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia)

SIBI
Sumber foto: Yayasan Peduli Kasih ABK

Sementara itu, SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia) bukanlah bahasa alami yang berkembang di kelompok masyarakat Tuli, melainkan sebuah sistem yang merepresentasikan tata bahasa lisan Indonesia ke dalam gerakan tertentu atau bahasa isyarat buatan. 

Sistem isyarat ini ironisnya diciptakan tanpa melibatkan kelompok masyarakat Tuli. Sehingga dalam praktiknya, SIBI yang dirumuskan seorang mantan kepala SLB yang tidak lain merupakan orang berkemampuan dengar, kurang dapat diterima luas oleh kelompok masyarakat Tuli. 

Terlebih sistem bahasa isyarat ini memiliki sejumlah kosa kata yang kontennya mengadopsi bahasa isyarat Amerika Serikat.

Selain dinilai lebih sulit karena mengandung kosakata yang baku dan rumit, SIBI juga memiliki struktur yang sama dengan tata bahasa lisan Indonesia, serta memiliki awalan dan akhiran.   Sementara itu, berbeda dengan BISINDO yang dikomunikasikan dengan gerakan dua tangan, SIBI disampaikan dengan satu tangan.

Sejarah mencatat, pemerintah Indonesia mengesahkan SIBI sebagai bahasa isyarat resmi SLB maupun lembaga pada 1994. Penyebabnya karena pada saat itu, Bisindo yang dianggap primitif, tidak muncul ke permukaan. Selain itu, kalangan yang lebih dekat dengan rezim penguasa memperkenalkan SIBI sebagai bahasa isyarat yang diklaim efektif membantu komunikasi masyarakat Tuli, kendati dalam praktiknya BISINDO lebih mempresentasikan kebutuhan komunikasi masyarakat Tuli.

Hubungi kami

×